Pandemi Covid-19, Ujian dan Hikmah Kehidupan

Bismillah. Bagaimana kabar kamu? Semoga Allah senantiasa limpahkan kesehatan dan kenikmatan-Nya padamu yaa, jangan lupa doakan yang sama untuk saya :’

Di post ini, saya akan tulis tentang ujian pandemi Covid-19 dan hikmah-hikmah apa yang kita dapatkan atas kehadiran wabah ini dalam kehidupan kita selama hampir setahun hadir di kehidupan kita.

Pandemi Covid-19

Ingat tidak, bulan Januari-Februari tahun lalu, jagat raya mulai dihebohkan dengan kasus Covid-19 yang mulai menyebar ke beberapa negara, meskipun mungkin sempat terpikirkan di antara kita, kalau negara asal virus ini terletak nun jauh disana dan kecil kemungkinan bisa sampai ke kita yang ada di Indonesia, tapi kuasa Allah, bisa sampai juga.

Ada banyak sekali kisah haru biru, ujian hidup, dan hikmah-hikmah kehidupan yang terjadi dalam kehidupan kita dan orang-orang sekitar kita selama pandemi Covid-19 hadir. Kalian tau tidak, apa yang akan saya bahas selanjutnya? Yaitu, tentang ujian-ujian dan hikmah kehidupan yang menghampiri kita, seperti kehilangan, kerinduan, kemelaratan, bencana, penyakit, pengangguran, tingkat kriminalitas. Namun, akankah saya juga membahas tentang kebahagiaan? Tentu, sebab Allah selalu adil, memberikan kesedihan dan kebahagiaan dengan seimbang.

Bacanya dilanjutkan ya, saya akan bahas satu-satu, ujian-ujian dan hikmah-hikmah kehidupan yang mungkin kita sama-sama perhatikan atau temukan, bahkan mungkin kita sendiri yang mengalaminya.

Covid-19 & Kehilangan orang-orang terkasih

Jujur. Rasanya, saya selalu terisak ketika membahas kehilangan, saya tahu betapa sakitnya yang dirasakan orang-orang yang kehilangan keluarganya yang telah menjadi penyintas pandemi Covid-19, bagaimana tidak? Bayangkan, mereka sudah kehilangan keluarganya, mereka juga tidak bisa melihat keluarganya untuk yang terakhir kalinya (karena dimakamkan sesuai protokol Covid).

Apakah kamu mengalami ini? Kamu kehilangan keluarga yang kamu sayangi disebabkan wabah? Atau justru kamu masih dibersamakan dengan keluargamu yang lengkap hingga saat ini?

Jika kamu mengalami kehilangan keluarga karena Covid, yakinlah kalau Allah memilihmu bukan tanpa alasan, Allah tahu kamu kuat, kamu yang diuji-Nya dengan kehilangan adalah tanda kamu orang pilihan-Nya yang dicintai-Nya, Allah ingin kasih tahu dan ingatkan ke kamu, kalau kehilangan itu pasti terjadi, dan cinta yang hakiki itu hanya cinta kepada-Nya.

Dan, teruntuk kamu yang sampai saat ini masih Dibersamakan dengan orang-orang yang kamu sayangi, bersyukurlah, jadikanlah kisah orang-orang yang kehilangan itu sebagai pelajaran untuk terus menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk keluargamu, sahabat, dan siapapun itu di sekitarmu. Ketahuilah, sesuatu yang telah diambil-Nya tidak akan pernah kembali dengan bentuk yang sama. Bersyukurlah.

Hikmah yang dapat diambil dari ujian kehilangan ini ialah, kita jadi lebih takut sama Allah kalau seandainya kita juga tiba-tiba kehilangan orang-orang terdekat kita. Bukan sekedar takut, tapi juga berusaha untuk lebih dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Wabah bisa menjadikan ikatan persaudaraan yang terjalin akan semakin erat, jika kita benar-benar belajar dari ujian kehilangan yang Allah ciptakan di tengah pandemi ini.

Covid-19 & Kerinduan yang dalam

Kalian ingat tidak, saat libur nasional dan cuti bersama tahun kemarin (saat idul fitri dan idul adha), sebagian besar perantau tidak bisa pulang ke kampung halamannya, sebagian besar yang hendak menjenguk keluarganya di daerah-daerah sebagai kebiasaan tahunan, terpaksa harus menerima pahitnya kenyataan, pemerintah menutup kembali penerbangan lokal. Rindu pun mulai bersarang, diantara anak-orangtua yang telah lama berjauhan, antara pasangan, antara sahabat dan teman, antara setiap jiwa yang telah lama berjarak.

Hal apa yang bisa kita jadikan pelajaran? Kita bisa belajar percaya pada kuasa Allah, bahwa sejatinya tidak semua hal itu bisa dibeli dengan uang, termasuk pertemuan dan kerinduan dengan keluarga. Jika kita punya uang, dan uang itu bisa kita pakai membeli tiket pesawat, bisa membeli tiket petapi sayang, Allah tidak menghendaki kita untuk bisa naik pesawat, sebab penerbangan ditutup.

Bahkan mungkin masih ada yang belum ketemu keluarganya sampai saat ini, sejak covid hadir. Lho kok bisa? Iya, karena bagi mereka yang kerja dan belum ada libur nasional, atau mungkin kampung halamannya jauh, dan lain sebagainya. Pasti ada.

Teruntuk kamu, yang lagi rindu sama keluarga karena sampai sekarang belum pulang dan bertemu keluarga yang kamu sayangi, bersabarlah, akan ada waktunya kamu akan kembali berkumpul bersama mereka, jika Allah benar-benar mengizinkan, insyaa Allah.

Hikmah apa yang dapat diambil dari ujian kerinduan yang hadir kala pandemi? Ya, tentu akan lebih menghargai setiap pertemuan yang ada, karena sudah sadar bahwa betapa ujian pandemi ini bisa menjadi ujian untuk kita, menjadi penghalang bertemu dengan keluarga, sahabat, dan siapapun itu.

Covid-19 & Kematian sebagai pengingat

Berita kematian pertama akibat kasus Covid-19 juga terjadi pada akhir bulan maret, *saya ingat sekali juga* akhir maret dan awal april tahun kemarin memang dimana-mana diterapkan kebijakan pemerintah daerah yang berdasar dari pemerintah pusat guna mencegah penularan Covid-19, seperti PSBB, kampanye #Dirumahaja, dan lain sebagainya. Menurut kalian berpengaruh tidak sih, upaya pemerintah?

Kalau menurut saya ya berpengaruh sekali, sebagai langkah preventif untuk semua orang, bayangkan, kalau kita tidak diwajibkan jaga jarak dan pakai masker, pasti semakin besar kemungkinan kita tertular. Selain itu, kesadaran diri juga sih,untuk mematuhi protokol kesehatan dan aturan pemerintah, ya, harus lebih aware sama keadaan kita dan juga orang sekitar.

Ya, semakin meningkatnya kasus kematian akibat wabah, bisa menjadi pengingat untuk kita yang saat ini masih diberi kesempatan hidup oleh Allah, bahwa kematian itu bisa saja datang hanya karena hal kecil yang tak terlihat ; seperti virus misalnya. Dan bagaimanapun upaya kita untuk menghindari, jika memang sudah ketentuan-Nya, ya kita tak bisa apa-apa.

Teruntuk kita, saya dan siapapun yang sedang baca tulisan ini, semoga kematian orang-orang di sekitar kita (baik yang disebabkan Covid ataupun penyakit lainnya, bisa menjadi pelajaran berarti untuk kita benar-benar berbenah menjadi lebih baik dan semakin lebih dekat dengan-Nya.

 “Cukuplah kematian sebagai nasihat.” (HR al-Thabrani, al-Baihaqi)

Ya. Hikmah yang dapat kita petik dari ujian kematian orang-orang sekitar kita yang menjadi penyintas covid-19 ialah sebagai pengingat, bahwa kematian itu sangat dekat dengan kita dan sesungguhnya kematian itulah sebaik-baik pengingat diri untuk terus berbenah jadi lebih baik lagi.

Covid-19 & Ujian kemelaratan hidup

Ujian kemelaratan hidup? Maksudnya bagaimana? Ya, banyak sekali saudara saudara kita yang sejak covid hadir di dunia ini, Allah uji dengan kondisi ekonomi yang jatuh sejauh-jatuhnya, sampai harus berjuang lebih keras mencari penghidupan. Duhh, sedih ingat yang ada di berita kemarin-kemarin, (ada kisah bapak yang sampai mau jual hpnya seharga 10.000,- demi beli beras, beberapa orang memilih belajar memulai usaha kecil-kecilan demi tercukupinya kebutuhan hidup).

Hikmah dari ujian ini apa? Allah ajar kita bersyukur dengan apapun yang masih bisa kita nikmati, di saat banyak saudara-saudari kita yang harus berjuang hidup di tengah pandemi. Pertanyaannya, apakah kita yang selama pandemi ini masih diberi kecukupan kebutuhan, apakah kita sudah bersyukur? *muhasabah yuk*

Covid-19 & Tingkat pengangguran

Tahun lalu banyak yang kena PHK juga karena keadaan pandemi yang tidak memungkinkan segala hal berjalan tetap normal. Namun, syukurnya segalanya berangsur-angsur menjadi baik, meski pandemi belum berakhir.

Pandemi bukan hanya membuat beberapa pekerja kehilangan pekerjaannya, namun juga berdampak pada tingkat pengangguran. Jangankan diterima kerja, orang-orang yang sedang bekerjapun rata-rata harus diberhentikan.

Jadi, kamu yang dari awal pandemi sampai saat ini masih tetap bekerja dan atau berpenghasilan, bersyukur yah, banyak saudara-saudara kita mulai awal pandemi kemarin kehilangan pekerjaannya, kalau tanggungannya tidak ada, ya tidak ada masalah, tapi kalau tanggungannya banyak, duh ujian sekali kan? Meskipun demikian, Allah selalu tetap menjamin rezeki kepada setiap hamba-Nya.

Ya. Hikmah dari ujian ini, kita jadi lebih menghargai setiap penghasilan dan kenikmatan apapun yang Allah berikan, kan? Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang senang bersyukur, bukan hanya di saat pandemi, kelak juga jika pandemi ini telah berlalu.

Covid-19 & Tingkat kriminalitas

Kasus kriminal apa yang paling banyak menyita perhatianmu selama pandemi Covid datang? Macam-macam ya, tapi yang paling banyak adalah begal dan semacamnya (Pembunuhan, perampokan, dll).

Mungkin biasa saja bagi kita dengan kasus-kasus demikian sebelum adanya Covid, tapi saat Covid datang, tingkat kriminalitas seperti kasus tersebut semakin merajalela, bahkan modus yang dipakai juga semakin tidak masuk akal, duh kejamnya dunia ini.

Apa yang menyebabkan angka kasus kriminalitas meningkat? Ekonomi sedang lemah, dan memang rata-rata keadaan pandemi yang dijadikan sebagai alasan motif kasus kriminalitas yang dilakukannya.

Apakah kamu juga pernah menjadi korban dari kasus kriminalitas yang terjadi selama pandemi? Kalau tidak, bersyukurlah, sebab banyak sekali di luar sana yang menjadi korban kekerasan, pembunuhan, dan kasus-kasus kriminalitas lainnya, selama pandemi ini.

Tetap hati-hati dan waspada ya, sebenarnya mau pandemi atau tidak, kejahatan banyak terjadi dimana-mana, cuma yaa memang di tengah pandemi seperti ini, tingkat kriminalitas semakin meningkat dibanding situasi normal seperti biasanya.

Hikmah dari ujian ini, kita jadi lebih hati-hati dengan berbagai bentuk kejahatan yang bisa saja menimpa kita kalau kita tidak waspada, karena ujian tingkat kriminalitas yang meningkat saat pandemi betul-betul bisa kita jadikan pelajaran untuk lebih hati-hati kedepannya, bukan cuma saat di situasi pandemi seperti saat ini.

Covid-19 & Ujian penyakit

Ujian penyakit maksudnya? Ya, selain Covid memang adalah penyakit yang sebagian besar kasusnya menular dan mematikan, maka menjadi ujian bagi orang yang terkena virus tersebut. Namun, bagaimana halnya dengan orang-orang yang punya penyakit bawaan lalu juga terkena Covid ? Semakin berat sekali rasanya ujian penyakit yang Allah titipkan pada mereka.

Katanya, semakin berat ujian itu, maka semakin besar juga hadiah/balasan kebaikan yang Allah limpahkan. *Ya kalau kita sabar menghadapinya*. Hmm insyaa Allah ya.

Bagi yang punya penyakit bawaan lalu kena Covid, surveynya sih kasusnya bakal lebih parah dari yang tidak punya penyakit bawaan, nah, bagaimana orangtua-orangtua kita yang telah lanjut usia? Bukankah, amat lebih berat juga bagi mereka jika terkena virus ini?

Qadarallah lagi sih, mau sekuat bagaimanapun pertahanan nya mencegah virus, kalau memang Allah berkehendak menguji kita, ya juga tetap kena. Sebaliknya, mau selemah bagaimanapun kondisi kita dalam mempertahankan paparan virus, kalau Allah tidak mengizinkan virus itu ada di tubuh kita, ya, tidak akan juga kita terpapar.

Hikmah dari ujian penyakit ini apa? Kita jadi lebih perhatian sama kesehatan. Benar kan? Jadi lebih sering cuci tangan, peduli sama kebersihan lingkungan kita, pokoknya benar-benar memperhatikan inhale dan exhale diri kita. Alhamdulillah, yah, kalau kita jadi lebih peduli dengan kesehatan, sebab nikmat kesehatan itu salah satu yang paling sering kita abaikan (mungkin saat pandemi belum datang).

Covid-19 & Kebahagiaan yang tak terduga

Dibalik banyaknya kisah sedih nan haru, Allah juga memberi banyak kebahagiaan di tengah pandemi. Meski pada umumnya, tidak semua diberi kebahagiaan yang sama di tengah pandemi.

Beberapa orang yang jarang sekali menghabiskan waktu yang lumayan banyak di rumah, saat pandemi hadir, malah rata-rata aktivitasnya justru dilakukan dari rumah, yang juga bisa mereka manfaatkan buat spend the time with their lovely family.

Ada juga yang saat pandemi hadir, mereka memulai usaha kecil-kecilan untuk menambah pemasukan, berdagang, yang Masya Allah denga usaha kecil-kecilan tersebut karena pandemi hadir, bisa berkembang usahanya hingga saat ini, bah

Kebahagiaan lainnya kayak bagaimana? Mungkin lewat pandemi ini, kita bisa jadi manusia yang lebih bersyukur dan menghargai setiap pemberian Allah sekecil apapun itu.

Ya. Allah kasih kita pelajaran berharga dalam hidup ini lewat pandemi, kita bisa jadi manusia yang bersyukur dan menghargai setiap pemberian Allah sekecil apapun itu. Kita juga jadi lebih perhatian dan menghargai kesehatan, lingkungan, pertemuan, dan nikmat-nikmat-Nya yang lainnya, kan?

Menurut kamu, kebahagiaan apa lagi yang Allah berikan di tengah pandemi ini? Tapi, yakin lah, dibalik setiap ujian (misalnya ujian pandemi) Allah tetap selalu berikan hikmah dan kebahagiaan, sebagai bentuk keseimbangan dan Maha Adil-Nya.

————————————————————————

Noted : Teruntuk kamu yang membaca tulisan ini, jangan lengah dengan keadaanmu, perhatikan selalu dirimu, demi keselamatan dan kesehatan bersama (untuk dirimu dan orang-orang sekitarmu) . Jangan acuh dan kurang percaya dengan adanya Covid.

Tetap jaga diri (pakai masker, jaga jarak, dan patuhi setiap protokol kesehatan lainnya). Kalaupun sudah berusaha untuk mencegah, namun Qadarallah tetap juga kena, jadikan hal tersebut sebagai ujian untuk lebih banyak bermuhasabah. Semoga Allah selalu lindungi kita, dalam setiap aktivitas yang kita kerjakan.

Dan terakhir, banyak-banyak bersyukur yah, jika Allah masih mengizinkan kita hidup saat ini, lakukan selalu kebaikan sekecil apapun itu. Banyak orang-orang yang diuji hebat di tengah pandemi ini, salah satunya dengan kehilangan orang yang mungkin paling mereka sayangi. Lalu, mengapa kita tidak jadikan kisah mereka sebagai pelajaran, bahwa kelak kitapun juga akan diuji-Nya, entah itu dengan kehilangan orang terdekat, atau ujian-ujian-Nya yang lain.

————————————————————————